MAKNA LUBANG BUAYA DAN G 30 S-PKI

SELAMAT HARI KESAKTIAN PANCASILA (1 OKTOBER 2019)


Sejarah sehari sebelum hari kesaktian Pancasila sangatlah keji dibenak bangsa indonesia dimana enam perwira tinggi dan satu perwira menengah TNI angkatan darat beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta, jika kita mendengar atau memperingati hari sakti Pancasila pasti yang teringat dibenak kita adalah legenda lubang buaya dan G 30 S-PKI, memang ini merupakan sejarah kelam Indonesia tetapi kita harus tetap ingat sejarah yang memperjuangkan Indonesia agar dimasa yang akan datang kita tidak mengulang kembali kejadian yang salah itu, dan disini saya akan memberikan sedikit sejarah tentang “lubang buaya” dan “G 30 S-PKI” hasil dari karangan atau hasil dari beberapa sumber yang saya kemas menjadi satu karena jika kita bicara lubang buaya pasti yang terpikir dibenak kita buayanya bukan daerahnya jadi banyak masyarakat Indonesia kesalahan persepsi dimana sebagian mengatakan bahwa tentara Indonesia dimakan buaya hidup-hidup setelah saya membaca lebih dalam ternyata itu salah, untuk dari itu saya memaparkan sebagain sejarah singkat lubang buaya dan G 30 S-PKI.                                                                      

Bicara soal sejarah lubang buaya, mari kita kembali ke masa lalu. Kita akan membuka lorong waktu dan kembali ke masa 30 September 1965. Di mana tragedi yang lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa G30 SPKI ini yang akan membawa kita untuk mengetahui sejarah lubang buaya. Siapa yang tak mengenal Lubang Buaya? Sebagian besar bangsa Indonesia mengetahui Lubang Buaya, bahkan hingga kisahnya yang menyeramkan dari Lubang Buaya itu. Seakan kisah-kisah tersebut sudah mengakar dalam benak bangsa Indonesia sepanjang Orde Baru berkuasa.

Nama daerah ini dari dulu memang Lubang Buaya.  Jadi, tidak ada sangkut pautnya nama ‘Lubang Buaya’ dengan tragedi tersebut. Menurut warga sekitar, bahwa tempat tersebut lebih banyak didiami oleh masyarakat asal Cirebon. Konon, menurut cerita masyarakat setempat, nama ‘Lubang Buaya’ dikarenakan kejadian setelah banjir. Sebelum terjadinya banjir, banyak warga yang tinggal di situ. Dan saat banjir melanda, banyak warga yang tinggal dan menggunakan getek (rakit) di atas air banjir.

Menurut cerita turun menurun ketika Datuk Banjir (Konon Datuk Banjir adalah Pangeran Syarif Hidayatullah bin Syaikh Abdurrahman, salah seorang penyebar dakwah Islam di tanah Jayakarta dan ia menetap didaerah tersebut hingga memiliki keturunan) dalam perjalanan dakwahnya menyusuri aliran sungai menggunakan getek (perahu bambu), serta bambu panjang sebagai dayungnya. Dalam perjalanan, bambu dayung itu tak menyentuh dasar sungai, seakan menyentuh ruang kosong. Ruang kosong itu seolah menyedot material di atasnya.

Akibatnya, bambu dayung dan getek serta Datuk Banjir turut tenggelam, saat tenggelam itulah, Datuk melihat sarang buaya di dasar sungai. Lalu Datuk Banjir muncul kembali ke permukaan sungai secara tiba-tiba, dia merenungi pengalaman spritual itu termasuk saat melihat sarang buaya di dalam sungai itu, Setelah air banjir surut, ternyata diketahui ada buaya yang sedang memakan dayung tersebut karena saking laparnya. Sehingga, banyak yang mengatakan, “Jangan ke tempat itu, ada buaya, ada lubang buaya.” Sehingga lama-kelamaan dari situlah Datuk Banjir dan masyarakat setempat menamakan daerah tersebut daerah ‘Lubang Buaya’.

Namun, legenda Lubang Buaya telah ternoda oleh tragedi G 30 S-PKI, pada tanggal 30 September 1965. Pada masa penjajahan, daerah Lubang Buaya ini merupakan daerah sentral pelatihan Sejarah PKI (Partai Komunis Indonesia) Sehingga legenda lubang buaya tidak lepas dari peristiwa G30S-PKI dimana Salah satu kesatuan dalam Gerakan 30 September ini telah bergerak mulai dari Lubang Buaya. Mereka dibagi menjadi tujuh kelompok yang mana tiap kelompoknya bertugas untuk menculik tujuh jenderal yang masuk dalam bagian anggota Dewan Jenderal. Lalu ketujuh jenderal tersebut dibawa ke Lubang Buaya. Seperti dalang dari G 30 S-PKI yang masih belum jelas siapa, eksistensi Dewan Jenderal pun juga belum diketahui dengan jelas  sampai saat ini. Memang sejarah G 30 S-PKI ini merupakan sejarah yang gelap dan kabur alias masih simpang siur. Banyak sesuatu yan belum terungkap dengan jelas,  Gerakan ini bertujuan untuk menggulingkan Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi komunis. Gerakan ini dipimpin oleh Dipa Nusantara Aidit yang merupakan ketua dari PKI saat itu. DN Aidit saat itu mengajak rakyat untuk mendukung PKI menjadikan Indonesia sebagai Negara yang lebih maju.

Lubang Buaya memang merupakan saksi bisu atas tragedi pembantaian besar yang dilakukan oleh gerakan kiri di Indonesia pada masa itu. Dalam pembantaian G 30 S-PKI, para jenderal yang sebagai korban ini sebelum dibunuh dikelilingi terlebihi dahulu seakan-akan mereka sedang melakukan pesta kemenangan. Mereka semua mengelilingi para jenderal, menari, dan bernyanyi-nyanyi di depan para korban. Tak hanya itu, para perempuan gerakan tersebut tidak kalah sadis, mereka menusuk-nusuki para korban dengan pisau ke tubuh para korban. Bahkan sampai menyilet-nyileti alat vital para korban. 

Setelah peristiwa G 30 S-PKI rakyat menuntut Presiden Sukarno untuk membubarkan PKI. Sukarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan semua unsur pemerintahan dari pengaruh PKI.
Soeharto bergerak dengan cepat. PKI dinyatakan sebagai penggerak kudeta dan para tokohnya diburu dan ditangkap, termasuk DN Aidit yang sempat kabur ke Jawa Tengah tapi kemudian berhasil ditangkap.
Anggota organisasi yang dianggap simpatisan atau terkait dengan PKI juga ditangkap. Organisasi-organisasi tersebut antara lain Lekra, CGMI, Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia dan lain-lain.
Berbagai kelompok masyarakat juga menghancurkan markas PKI yang ada di berbagai daerah. Mereka juga menyerang lembaga, toko, kantor dan universitas yang dituding terkait PKI.

Pada akhir 1965, diperkirakan sekitar 500.000 hingga satu juta anggota dan pendukung PKI diduga menjadi korban pembunuhan. Sedangkan ratusan ribu lainnya diasingkan di kamp konsentrasi. Untuk mengenang jasa ketujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa ini, Soeharto juga menggagas dibangunnya Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Para pelaku Gerakan G 30 S-PKI ini diberi nama dengan sebutan ‘Gerwani’. Aksi Gerwani tersebut pun diabadikan di Lubang Buaya yang terpampang pada relief di Monumen Pancasila Sakti. Relief tersebut diukir berdasarkan persepsi dan cerita menurut Orde Baru.

Okeee guys cukup sekian cerita sejarahnya, semoga bagi masyarakat awam yang membaca artikel ini semakin mengerti arti lubang buaya dengan G 30 S-PKI,, Thanks

*SELAMAT HARI KESAKTIAN PANCASILA*

Leave A Comment